Anisah putri Ramadhani
XII-7
1.Tarian Seblang Banyuwangi
Tari Seblang adalah tarian tradisional yang berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur, yang memiliki makna dan fungsi ritual yang mendalam bagi masyarakat setempat. Tarian ini dilakukan sebagai upacara penolak bala dan bersih desa, bertujuan untuk menjaga keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. Terdapat di dua desa, yaitu desa olehsari dan desa bakungan, yang masing-masing memiliki karakteristik dan pelaksanaan yang berbeda. Dalam pelaksanaan Tari Seblang, penari yang dipilih secara supranatural akan mengalami kondisi trance, di mana mereka menari dengan gerakan yang monoton dan mata terpejam, mengikuti irama musik gamelan yang khas. Tarian ini juga melibatkan elemen mistis, di mana penari dirasuki roh halus. Selain sebagai ritual, Tari Seblang juga menjadi daya tarik budaya yang menarik perhatian wisatawan dan berfungsi sebagai sarana hiburan bagi masyarakat. Dengan demikian, Tari Seblang tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga memperkuat identitas budaya lokal.
2. Slametan
Slametan adalah tradisi ritual yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, terutama dalam Islam, tujuan tradisi ini sebagai ungkapan syukur dan permohonan keselamatan. Tradisi ini melibatkan pengumpulan keluarga dan tetangga untuk berdoa bersama, diiringi dengan penyajian makanan sebagai simbol sedekah. Makna slametan sangat dalam, mencakup aspek spiritual dan sosial, di mana kegiatan ini memperkuat ikatan antar anggota masyarakat serta mengingatkan mereka akan pentingnya rasa syukur kepada Tuhan. Slametan sering dilakukan pada berbagai kesempatan, seperti kelahiran, pernikahan, dan peringatan kematian, dan dapat dilihat sebagai media dakwah yang mengajak masyarakat untuk selalu ingat kepada Allah. Namun, di era milenial, slametan menghadapi tantangan, terutama dengan pengaruh teknologi yang dapat mengurangi esensi dari ritual ini. Meskipun demikian, slametan tetap menjadi bagian penting dari budaya Jawa, mencerminkan akulturasi antara tradisi lokal dan ajaran agama.
3. Upacara Belian
Upacara Belian adalah sebuah tradisi pengobatan yang berasal dari masyarakat suku Dayak di Kalimantan. Tujuan utama dari upacara ini adalah untuk mengobati orang sakit, membantu perempuan hamil yang sulit melahirkan, mengobati Kemantan, dan menolak wabah penyakit. Upacara Belian terbagi menjadi dua jenis: Belian Kocik (kecil) dan Belian Bose (besar). Belian Kocik digunakan untuk orang sakit atau perempuan hamil yang sulit melahirkan, sedangkan Belian Bose digunakan jika Belian Kocik tidak efektif. Tokoh utama dalam upacara Belian adalah Kemantan, yang ahli dalam mengobati berbagai jenis penyakit, menghadapi binatang buas, serta berkomunikasi dengan makhluk gaib. Pebayu bertugas mempersiapkan alat-alat upacara dan menemani Kemantan selama ritual, serta menerjemahkan ucapan Kemantan. Bujang Belian bertugas membunyikan gendang ketobung dan membaca mantra khusus sebelum upacara dimulai.
4. Martumpol
Martumpol adalah salah satu tahap wajib dalam prosesi perkawinan adat Batak, terutama bagi mereka yang beragama Kristen. Acara ini dihadiri oleh orang tua dari kedua mempelai dan keluarga mereka, biasanya diadakan di gereja dengan undangan yang diumumkan dalam berita jemaat (Tingting) selama beberapa hari sebelum upacara pemberkatan dan pesta adat perkawinan. Dalam acara martumpol, calon pengantin membacakan ikrar bahwa mereka tidak memiliki hubungan asmara dengan orang lain selain dengan calon pasangannya, menunjukkan komitmen mereka sebelum pernikahan. Martumpol merupakan inovasi dari para penginjil yang ke daerah Batak, sehingga kegiatan ini dilakukan di gereja atau di rumah yang dikukuhkan oleh pendeta, khususnya gereja yang beraliran protestan (HKBP). Acara ini memperkuat nilai-nilai kekeluargaan dan komitmen dalam pernikahan adat Batak.
5. Kain Tenun
Kain tenun di Kalimantan merupakan warisan budaya yang kaya dan beragam, masing-masing memiliki keunikan dan filosofi yang mendalam. Di Kalimantan Timur, tenun ulap doyo dari Suku Dayak Benuaq menggunakan serat daun doyo yang dikeringkan dan disayat untuk menjadi benang kasar. Motifnya terinspirasi dari flora dan fauna di tepian Sungai Mahakam, serta tema peperangan antara manusia dengan naga, yang menjadi identitas bagi pemakainya. Proses pembuatannya diwariskan secara turun temurun melalui pengamatan dan pelatihan spontan, sehingga keterampilan ini sangat unik dan sulit ditemukan di luar Suku Dayak Benuaq. Di Kalimantan Barat, kain tenun Dayak Iban memiliki citra rasa artistik dan filosofi tinggi. Setiap motif memiliki makna tersendiri, mulai dari pengalaman spiritual hingga persepsi tentang alam. Pembuatan kain tenun ini melibatkan pantangan yang menyebutkan bahwa kain tidak boleh dibuat ketika ada saudara yang meninggal, untuk menghindari kutukan atau hal buruk. Motif-motifnya juga memiliki nilai sakralitas dan dianggap sebagai simbol pengekspresian keindahan alam sebagai tempat tinggal.
6. Tasmiyah & Aqiqah
Tasmiyah dan aqiqah adalah dua tradisi penting dalam Islam yang memiliki makna spiritual dan keagamaan yang mendalam.
Tasmiyah adalah tradisi yang melibatkan penyebutan nama Allah SWT, yang sering dilakukan dengan membaca bismillah. Menurut Islam, tasmiyah memiliki keutamaan yang besar karena dapat memperindah dan memperbaiki setiap amalan. Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan bismillah, maka amalan tersebut terputus (barokahnya). Tasmiyah sering dilakukan dalam berbagai kegiatan, seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, dan dianggap sebagai cara untuk menunjukkan ketaatan dan kecintaan kepada Allah SWT.
Aqiqah adalah tradisi yang melibatkan penyembelihan hewan, biasanya kambing atau sapi, untuk memperingati kelahiran seorang bayi. Aqiqah diwajibkan pada hari ke tujuh setelah kelahiran bayi dan merupakan salah satu cara untuk menunjukkan rasa syukur dan ketaatan kepada Allah SWT. Meskipun Imam Syafi’i tidak mensyaratkan tasmiyah sebagai syarat sahnya sembelihan, membaca basmallah ketika hendak menyembelih hewan adalah sunnah bukanlah wajib, namun jika tidak membaca basmallah karena lupa atau sengaja maka hewan sembelihan tersebut tetaplah halal dimakan.
Kedua tradisi ini memiliki tujuan yang sama, yaitu meningkatkan ketaatan dan kecintaan kepada Allah SWT. Tasmiyah memperindah setiap amalan dengan menyebut nama Allah, sedangkan aqiqah merupakan bentuk rasa syukur dan ketaatan dengan menyembelih hewan. Kedua tradisi ini penting dalam menjaga dan meningkatkan keimanan dan ketaatan umat Muslim.